EditorJabar.com, BANDUNG – Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIA Bandung terus berinovasi dalam program pembinaan kemandirian Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Salah satunya melalui pengembangan bakat seni Stand Up Comedy dengan menggandeng komika dari Bandung.
Kepala Lapas Perempuan Kelas IIA Bandung, Rika Aprianti, mengatakan pembinaan kemitraan dengan unsur masyarakat menjadi strategi penting agar pembinaan tidak berhenti di dalam lapas.
“Salah satu strategi kami mengembangkan partner kemitraan dengan unsur-unsur masyarakat. Kami berharap setelah ini tidak berhenti sampai di sini saja, kami akan bina mereka menjadi tim Stand Up Comedy,” ujar Rika Aprianti, Selasa (27/10/2026).
Menurut Rika, konsep kemandirian di lapas tidak hanya sebatas membuat produk kerajinan di 13 pos kerja yang ada, tetapi juga mengasah bakat dan talenta. Profesi sebagai komika dinilai mampu menjadi bekal hidup mandiri bahkan berkecukupan setelah kembali ke masyarakat.
“Kemandirian itu bukan hanya sebatas membuat produk. Bakat atau talenta juga. Kita bisa lihat komika-komika itu bisa hidup mandiri bahkan berkecukupan menjadi Stand Up Comedy. Tadi saya lihat Alhamdulillah mereka mampu berbicara di depan audience, sangat berani, percaya diri, dan banyak yang lucu banget,” jelasnya.
Pihaknya berharap pembinaan yang bekerja sama dengan komika Bandung ini bisa menjadi pilihan jalan hidup yang menghasilkan bagi WBP. Sehingga tujuan kemandirian benar-benar terwujud saat mereka bebas nanti.
“Kami bekerja sama dengan komika dari Bandung, ini bisa menjadi salah satu pilihan hidup mereka setelah kembali ke masyarakat. Pilihan hatinya bisa mendatangkan uang, sehingga kemandirian itu benar-benar terwujud,” tegasnya.
Terkait pelaksanaan, Rika menyebutkan kegiatan Stand Up Comedy ini merupakan program baru yang akan terus bergulir secara rutin sebagai bagian dari pembinaan kepribadian.
“Sepengetahuan saya ini baru. Insyaallah ini akan terus bergulir menjadi salah satu pembinaan kepribadian atau penggalian bakat seni mereka. Ini bagian dari pembinaan kepribadian, menggali seni yang bisa menjadi bekal mandiri di masyarakat,” ujarnya.
Ke depan, Lapas Perempuan Bandung juga akan mengembangkan bakat lainnya seperti kelas menulis dan berbagai lomba, dengan tetap melibatkan unsur masyarakat terkait untuk memperkuat pembinaan.

